Catatan

Negeri Seorang ‘Raja’

Terceritakanlah sebuah negeri dengan seorang raja. Tercipta dari puing-puing sisa kejayaan negeri sebelumnya yang tertulis tinta emas sejarah masa lalu. Setelah menunggu berabad-abad lamanya, negeri ini terlahir juga ke dunia. Selamat tanpa cacat. Senang bukan main sang raja. Atas kesyukuran itu, diberikanlah 5 dari 8 wilayah yang ada di bawah kekuasaannya pada kerabat-kerabat dan anggota […]

Negeri Seorang ‘Raja’ Read More »

60 Tahun Taufiq Ismail

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” (QS. Al-‘Alaq : 1-3) Jelang sore kemarin, atas info seorang teman (terima kasih kepadanya saya ucapkan, semoga segala urusannya dimudahkan), saya menghadiri acara “60 Tahun Puisi Taufiq Ismail dalam Terjemahan Inggris” di Kampus UI Salemba. Sebenarnya

60 Tahun Taufiq Ismail Read More »

Paspor Oh Paspor

Petugas  : “Untuk apa bikin paspor?” Saya        : “Untuk pergi ke tanah suci.. dan keliling dunia.” *dengan pede-nya* Petugas   : *nada sinis* “Kamu punya uang berapa mau keliling dunia?” Saya  : “Yaah jalan mah ada aja, Pak..” Petugas  : “Zaman sekarang itu kalo mau ke luar negeri aja harus punya banyak uang,

Paspor Oh Paspor Read More »

Mengajar Menjadi Guru

Menjadi Guru: Sebuah Memoar

“Sebaik-baik belajar adalah dengan mengajar.” – Ustadz Najwani, seorang guru. Merasakan sebenarnya-benarnya kehadiran guru adalah ketika saya duduk di bangku SMP. Saat dimana kasih sayang layaknya seorang ibu sendiri saya terima dari guru-guru ketika itu. Kenapa tidak SD? Dugaan saya, pola pikir seorang Achmad Anwar Sanusi mungkin belum paham mengenai kehadiran dan arti seorang guru

Menjadi Guru: Sebuah Memoar Read More »

PELAUT mUDA

Ingin kuceritakan sebuah kisah padamu, Kawan. Kisah ini hadir setelah aku menemukan sebuah alasan tidak masuk kelasnya seorang murid hari Selasa lalu. Alasan yang bagiku benar-benar baru. Alasan yang bagi telingaku terdengar asing: pergi melaut. Adalah Ahmad Dani, seorang anak kelas 6 SD berusia 13 tahun, berperawakan sedang, berkulit agak gelap –mungkin karena terlalu sering

PELAUT mUDA Read More »

Hampir Sampai

Aku hampir tiba pada masa yang saat SMA dulu pernah aku bayangkan. Saat dimana aku tiba pada masa dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan bertahan pada idealisme yang ku genggam erat selama ini, atau pilihan melepaskan itu demi keluarga yang aku pegang petuahnya semenjak kecil. Rasa-rasanya aku tak pernah sekhawatir ini semenjak dulu. Saat studi tertunda

Hampir Sampai Read More »

Do’a dalam Cita

Camara, 15 Juli 2013 Senin pagi, 15 Juli 2013, 08.25, aku menemukan diriku mematung sepersekian detik di dalam sebuah ruangan. Berdiri sendirian. Dihadapanku 18 anak usia 11-13 tahun duduk dengan rapi. Anak-anak itu begitu antusias, menunggu kalimat sambungan dari kalimat-kalimat milikku sebelumnya. Temanku yang berdiri di salah satu sudut ruangan pun melakukan hal sama, memandangku.

Do’a dalam Cita Read More »

Pertemuan Pertama

Matahari masih cukup jauh menyentuh laut. Langit dipenuhi gerombolan awan yang berarak perlahan menyesaki. Menghalangi separuh sang surya yang hendak menyinari dunia. Hingga pendaran cahayanya pun tak jatuh sempurna pada hamparan pasir pantai yang sedang kususuri. Di kejauhan, aku menemukan sesosok tubuh terpungkur jongkok diatas karang yang jauhnya seperlemparan tangan dari garis pantai. Sendirian. Aku

Pertemuan Pertama Read More »

Mimpi Masa Kecil

“Bukan kota yang padat dan gemerlap yang membuat negeri kita kukuh, tetapi desa-desa yang maju dan mandirilah yang akan membuat negeri kita kuat dan tangguh.” – Singgih S. Kartono Ketidaksengajaan mengantarkan saya pada sebuah foto terkait sebuah kegiatan bernama 1st International Conference of Village Revitalition beberapa waktu lalu. Dengan digerakkan rasa penasaran, saya putuskan untuk

Mimpi Masa Kecil Read More »

Hingga Butir Terakhir

Kadang kita tak pernah tahu pasti alasan orang tua kita selalu mengharuskan kita menghabiskan makanan saat kecil dulu. Kita ikuti saja perintah itu walau harus dengan muka kesal dan ogah-ogahan. Selain karena tak ingin membantah orang tua, juga karena memang saat itu kita belum memiliki pemahamanan akan arti penting sesuatu. Orang tua kita biasanya mengatakan:

Hingga Butir Terakhir Read More »