Fiksi

Cerpen – Sarjana Desa

Melihat seorang pemegang gelar sarjana sedang duduk-duduk di gubuk pematang sawah dengan pakaian lusuh dan kotor penuh lumpur, bukan kemeja berdasi dan duduk di ruang ber-AC, bisa memunculkan berbagai persepsi  banyak orang.  Bisa jadi ia memang sedang dalam masa menunggu panggilan yang tak kunjung datang dari perusahaan yang telah dilamar. Atau bisa jadi ia dan …

Cerpen – Sarjana Desa Selengkapnya »

Dikagumi Atau Dicintai

Di antara kita, ada orang yang tak pernah kita kagumi, tapi kemudian dicintai. Ia kadang datang ke kehidupan kita tanpa pernah kita undang. Kita serasa pernah berjumpa dengannya di masa lalu. Entah kapan itu. Ia termasuk pada golongan orang-orang yang baru kita kenal, tapi terasa amat spesial. Hanya sekali dua kali bertatap muka, tapi seperti …

Dikagumi Atau Dicintai Selengkapnya »

Kata-Kata Hujan

Selain melodi dan aroma, rasa-rasanya hujan pun punya kata-kata. Sesekali coba baca setiap deret aksara yang ditulisnya. Juga dengar setiap rima yang ia cipta. Jika kau telisik lebih dalam lagi pada setiap bulir air hujan yang datang, akan kau temukan ragam puisi, prosa atau bahkan sekedar kata ‘hai’. Apalagi jika kau berani merasai setiap tempias …

Kata-Kata Hujan Selengkapnya »

Cerpen – Masa Kecil Yang Hilang

“Lumpat, Nas.. geuraan.geuraan..!” teriakku dalam bahasa Sunda pada Anas sekeras-kerasnya. Ia membalas teriakanku dengan lari sekencang-kencangnya. Aku layaknya fans fanatik sepak bola yang sedang meneriaki salah seorang pemain kesayangannya menggiring bola menuju mulut gawang sendirian lalu menendang hingga menghasilkan sebuah gol. Itu teriakkanku paling keras hingga urat leherku terlihat jelas. Jikapun kemudian dipaksakan diteruskan, kemungkinannya hanya …

Cerpen – Masa Kecil Yang Hilang Selengkapnya »

Aku Hanya

Aku hanya laki-laki biasa yang tak pernah bermimpi untuk punya segala: kendaraan mewah, istana megah, harta melimpah, dan segala hal lain yang serba wah. Pada semua itu aku tak memiliki ketertarikan sama sekali.Aku hanya laki-laki yang bermimpi untuk punya rumah sederhana dengan tiga kamar di dalamnya: untuk kita berdua, anak-anak kita, dan tamu yang sesering …

Aku Hanya Selengkapnya »

Hujan dan Kenangan

Pagi ini hujan masih turun membasahi bumi. Kelanjutan dari hujan deras pagi buta tadi. Ia sisa hujan semenjak kemarin sore yang semalam sedikit mereda. Benarlah kata orang jika puncak kemalasan adalah ketika bangun pagi. Apalagi pagi buta. Ditambah hujan deras dan cuaca dingin bersamanya. Ah, puncak dari atas segala kemalasan! Tapi pagi buta tadi aku …

Hujan dan Kenangan Selengkapnya »

Cerpen – Haru dan Bahagia

Manusia menangis karena dua alasan, karena bersedih dan karena bahagia. Aku menangis karena alasan ketiga: tak bisa melakukan keduanya. Semenjak kehidupan mengambil segalanya dariku, aku bersumpah kepadanya untuk tidak akan pernah menangis. Dan asal kalian tahu, aku benar-benar tak pernah menangis semenjak itu. Bahkan setelah kematian dua orang yang amat kucintai: nenekku hampir setahun lalu, …

Cerpen – Haru dan Bahagia Selengkapnya »

Cerpen – Samudera dan Awan

Diam-diam, Samudera mengagumi Awan. Tak henti-hentinya ia memandang. Seharian kadang. Ia adalah secret admirer sejati sang Awan. Semenjak dulu, sebelum mereka bertemu. Bahkan mungkin sesaat setelah mereka berdua diciptakan. Dan sebelum kata secret admirer itu sendiri ditemukan. Hampir setiap hari mereka bertemu, namun tak pernah Samudera berani mendekati Awan. Selain tak berani, mana mampu? Ia …

Cerpen – Samudera dan Awan Selengkapnya »