Surat pada Sahabat: Perempuan Tangguh

Kawan, ada yang ingin aku ceriterakan. Pekan lalu aku dan istriku dikaruniai seorang putra. Ia adalah buah hati kedua kami yang dapat melihat dunia. Tapi bukan ia yang ingin aku ceritakan padamu, melainkan ibunya. Asal kau tahu, dalam usia pernikahan kami yang ke-5, istriku telah 5 kali mengandung. Tak ada perempuan hebat yang lebih aku kenal selain ia.

Teramat sedikit sekali perempuan yang lahir, besar, tumbuh, tinggal, sekolah, kuliah, dan bekerja di kota namun mau ikut suaminya ke desa di kaki gunung jauh dari mana-mana. Hidup dengan fasilitas yang tak selengkap di kota, dengan hidup yang tak semudah apa-apa ada seperti di kota besar, dengan rutinitas hidup yang tidak pergi pagi pulang sore seperti orang-orang biasa, dengan jalan hidup yang bagai roal coaster segala hal tak terduga dapat terjadi di depan mata. Dan Allah menganugerahkan perempuan yang jumlahnya teramat sedikit itu, padaku.

Beberapa tahun ke belakang sebelum anak kami lahir, kami adalah sepasang istri nomaden. Pun bahkan setelah ia lahir. Tinggal berpindah tempat tinggal 5 kali mulai dari rumah orang tua, rumah dinas, hingga kontrakan kita rasakan.

Hidup penuh dengan kesadaran bahwa ada kebutuhan dan keinginan yang harus dibedakan, dengan kesadaran bahwa setiap rezeki ada jatahnya masing-masing, bahwa ketercukupan hanya milik orang yang selalu bersyukur atas apa yang Allah rezeki setelah kita ikhtiarkan.

Kesadaran itu yang ingin kami bangun dan tanamkan nanti kepada putra/putri kami.

Ketangguhan istriku kelak akan aku ceritakan pada anak-anak kami untuk jadi teladan. Bahwa hidup harus penuh perjuangan. Dan perjuangan itu mesti dihadapi salah satunya dengan ketangguhan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *